Selasa, 22 Agustus 2023

Senja itu...

Hembusan angin yang selalu menerpa wajah lembutmu; kubiarkan itu merayumu. Lewat angan, ku salurkan tiap larik kagum yang tak terbendung dalam ulu-ku. Aku dapat rasakan tiap senyum bahagia itu tertabur karna ku. Bentuk dari sebuah upaya yang selalu ku-anut untuk menghias hariku. 
Mata ini, kucoba sejenak untuk terpejam. Ku lakukan untuk setidaknya mendengan alunan merdu dari suaramu. Tawa, celoteh serta gurau mu melengkapi indahnya petang dipadang rumput ini. Yang selalu ku nikmati setiap sore dalam benak rapuh ini.
Aku sempat mempertanyakan, bagaimana keindahan ini selalu kunikmati bahkan setiap ku bernafas, setiap jantungku berdetak. Apakah aku menolong banyak makhluk dimasa lalu? hingga saat ini aku diberi bahagia semeluap ini. Aku harus bersyukur kan? tentu saja!

 

Sabtu, 19 Agustus 2023

PERAYAAN MATI RASA

Tiap lembar kertas itu terbalik, merangkum tiap selip kehidupan pahit yang sakit. Ku biarkan seluruh ranah jiwa terjerumus pada lirik pedih hidup ini; agar ku bisa nyanyikan pujian pedih tiap dini hari. Lalu, aku akan melenguh; lenguhan siksa yang tak ingin didengan makhluk manapun.

Aku meratap! Membiarkan ketakukan menguasai lakon hidupku. Ku biarkan luka lara tergenggam dalam jemari lunglai ku; agar pesakitan ini kian rapih, tertata dalam hidup redupku. Meski aku tak yakin, apakah bisa meraupnya sekuat tenaga.

Dengan luka yang tak kunjung pudar, ku rayakan setiap pesakitan yang datang dalam angan kosongku. Aku menerimanya, memeluknya bagai sebuah hangat yang harus aku sambut dengan suka cita. Lalu kubiarkan ia membunuh satu persatu luap angan dalam cahayaku; agar semakin menggelap lingkup jelitaku. 

Pesakitan ini tampak nyata, ku rasa. bendungan tangis yang susah payah ku bangun, nyatanya luruh. Hingga ku biarkan jemari ini menjambak tiap helai harapan yang mulai kabur. Ku biarkan setidaknya berkorban sekali lagi; meski tau akhirnya akan sama. 

Selasa, 08 Agustus 2023

AKU BERUSAHA

Setelah pergulatan itu, aku berusaha untuk bertahan pada binar angan yang terus menggerus realitas. Aku membungkuk, membiarkan mataku terus menatap tanah sembari tetesan itu menanar pada tanah kering. Aku ucapkan maaf pada tiap-tiap kesakitan yang menerpaku, memohon untuk selesaikan saja aku. Dan, aku luar biasa paham akan kesakitan itu; karna itu ulahku pula.

Aku meratap; menerima dengan lapang tiap pesakitan yang menginjakku. Aku tampak terguling, terhempas lalu dijejak dengan beratnya pusar kehidupan. Aku semacam tak pantas untuk menikmati hidup barang sejenak. 

Aku tak berharap lintasan ini menghentikanku untuk menerpa juang, aku hanya ingin sejenak istirahat; setelah selama ini berusaha menerima banyaknya tandus dalam benakku. 

Aku hanya ingin merasa pantas untuk berbahagia sedikit saja, tak lebih. Agar setidaknya aku bisa ucapkan terimakasih pada sang lentera bumi ini.
 

 

 

Sabtu, 05 Agustus 2023

MASAM HATI

 

Luruh sudah perasaan manis ini; berganti dengan riakan pahit bak brotowali. Meruah, kubiarkan letupan marah menguasai. Aku tak merasa bahwa setiap langkahku adalah luka; hanya saja— ayolah, biarkan aku terbahak sedikit saja. Tiap detik terisi oleh riuh memuakkan prahara.

Ulu-ku tampak semakin membusuk, sepertinya. Akibat masamnya surai sengsara, membiarkanku selalu terluka. Aku menganggapnya sebagai propaganda hidup susah. susah tertawa bahagia, susah mensyukuri, susah bersuka cita. Aku berakhir menjadi seorang yang dengki dengan muka masam bak seorang pendendam.

Aku bergerak, melalu berbagai pedih dan luka. Membiarkan hatiku makin membusuk layaknya daging tak enak disantap. Banyak yang menganggapku sosok picik, dengan berbagai argumen yang menurutku sangat benar; tentangku. memojokkan sisi lembutku, membiarkan picikku menguasai diri. 

Lalu, apakah aku senang hidup seperti penyihir ini? bahkan penyihir saja bisa tampak sangat baik. Apakah aku tak pantas dipandang baik pula? seburuk itukah aku? serendah itukah aku? meski aku percaya, setitik baikku selalu mengikuti picikku yang lebih membengkak ini.

Ku-biarkan hatiku semakin masam, semakin membuncah ruah akan kebencian. Ku-biarkan debu picik ini semakin menutup lapis ulu-ku yang riang. membungkusnya dengan benci bak kesetanan.

Rabu, 02 Agustus 2023

Perjalanan baru.

Aku tengah berupaya, membiarkan langkah ini terurai pada jalanan batu didepan sana. Bagaimana tiap batu yang terurai, seperti ingin menancap pada telapak pijakan milik tubuh ringkihku. aku sempat berpikir, apakah jalan yang ku tempuh harus seterjal ini? Apakah setelah ini, aku akan semakin lunglai oleh luka lagi? Sebagaimana saat ini kurasa penat yang kian merusak jiwa— meremat perlahan. 

Aku semakin tampak menyedihkan, dengan membiarkan berbagai prasangka ini terpupuk subur dalam benakku. Ku biarkan perlahan, tirai inginku tertutup oleh kelabu; semakin meredup bak historia menakutkan itu. Aku terpuruk! aku melemahkan percayaku.

Aku, harus bagaimana? Keterpurukan ini semakin mencekikku; perlahan membunuh asa dalam diriku.

Aku sempat menyesali babak baru ini; perjalanan baru yang mau tak mau harus ku tempuh dengan gigih. Membuatku kehilangan percaya terhadap rajutan-rajutan yang sebelum ini kujahit dengan rapih. aku merusaknya sendiri; dengan jemari ringkihku sendiri. 

Yang ku lihat saat ini hanya gelap; mendung yang terlampau redup. Aku sempat berharap, kapan bahagiaku datang; disaat perjalanan ini bahkan baru sempat kusentuh ujungnya saja. Lalu aku semakin terpuruk dengan berbagai prasangka burukku tentang masa depan. 

Memicu benci semakin tumbuh subur dalam ulu-ku; terhadap keseluruhan percaya yang ku cipta sejak lalu. 

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...