Minggu, 23 Maret 2025

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu.
Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit. 
Moral, ia redupkan. Ia senantiasa menjamah perapian adab, mengoyak tiap keyakinan.
Gadis rapuh itu, ia hancurkan. Remuk, redam. Bak selendang sutra yang koyak akan angan.
Sementara, ia tertawa lepas. Ia nikmati tiap pesakitan yang menerpa pualam. Gadis itu, pantas menempa dirinya pada senggama fana, dunia. 
Gadis itu harus jatuh, lalu bangkit, dalam semalam. 
Sementara ia, akan menjadi penonton paling istimewa, menjadi yang paling sempurna, menanti gadis itu menyatu padanya. 
Pada kedewasaan, pada kesendirian, pada keyakinan. 
Yang tak pernah gadis rapuh itu dapatkan, bahkan dari sang rembulan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...