Minggu, 11 Agustus 2024

Arungi

Semburat merah itu, menyala bak kembang api indah di penghujung tahun.
Ia rajut perlahan buah asa, menjadikannya pelipur lara. 
Ia sempat begitu terlena, berharap meraup sahaja.
Sedang sang rembulan, menjadi saksi bagaimana dua insan bercumbu mesra.
Sigadis tampak kemayu, memaparkan sejuta goda rayuan.
Ia dengan sadar bertingkah sebagai wanita pelacuran, menggoda si pria malang.
Sementara itu, semesta tampak mendukungnya, membiarkan senggama itu terjalin begitu saja.
Dua manusia sakit, dua manusia yang masih terluka, saling membumbung sahaja; melupakan sejenak borok pesakitan yang menderai keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...