Aku tengah berupaya, membiarkan langkah ini terurai pada jalanan batu didepan sana. Bagaimana tiap batu yang terurai, seperti ingin menancap pada telapak pijakan milik tubuh ringkihku. aku sempat berpikir, apakah jalan yang ku tempuh harus seterjal ini? Apakah setelah ini, aku akan semakin lunglai oleh luka lagi? Sebagaimana saat ini kurasa penat yang kian merusak jiwa— meremat perlahan.
Aku semakin tampak menyedihkan, dengan membiarkan berbagai prasangka ini terpupuk subur dalam benakku. Ku biarkan perlahan, tirai inginku tertutup oleh kelabu; semakin meredup bak historia menakutkan itu. Aku terpuruk! aku melemahkan percayaku.
Aku, harus bagaimana? Keterpurukan ini semakin mencekikku; perlahan membunuh asa dalam diriku.
Aku sempat menyesali babak baru ini; perjalanan baru yang mau tak mau harus ku tempuh dengan gigih. Membuatku kehilangan percaya terhadap rajutan-rajutan yang sebelum ini kujahit dengan rapih. aku merusaknya sendiri; dengan jemari ringkihku sendiri.
Yang ku lihat saat ini hanya gelap; mendung yang terlampau redup. Aku sempat berharap, kapan bahagiaku datang; disaat perjalanan ini bahkan baru sempat kusentuh ujungnya saja. Lalu aku semakin terpuruk dengan berbagai prasangka burukku tentang masa depan.
Memicu benci semakin tumbuh subur dalam ulu-ku; terhadap keseluruhan percaya yang ku cipta sejak lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar