Setelah pergulatan itu, aku berusaha untuk bertahan pada binar angan yang terus menggerus realitas. Aku membungkuk, membiarkan mataku terus menatap tanah sembari tetesan itu menanar pada tanah kering. Aku ucapkan maaf pada tiap-tiap kesakitan yang menerpaku, memohon untuk selesaikan saja aku. Dan, aku luar biasa paham akan kesakitan itu; karna itu ulahku pula.
Aku meratap; menerima dengan lapang tiap pesakitan yang menginjakku. Aku tampak terguling, terhempas lalu dijejak dengan beratnya pusar kehidupan. Aku semacam tak pantas untuk menikmati hidup barang sejenak.
Aku tak berharap lintasan ini menghentikanku untuk menerpa juang, aku hanya ingin sejenak istirahat; setelah selama ini berusaha menerima banyaknya tandus dalam benakku.
Aku hanya ingin merasa pantas untuk berbahagia sedikit saja, tak lebih. Agar setidaknya aku bisa ucapkan terimakasih pada sang lentera bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar