Luruh sudah perasaan manis ini; berganti dengan riakan pahit bak brotowali. Meruah, kubiarkan letupan marah menguasai. Aku tak merasa bahwa setiap langkahku adalah luka; hanya saja— ayolah, biarkan aku terbahak sedikit saja. Tiap detik terisi oleh riuh memuakkan prahara.
Ulu-ku tampak semakin membusuk, sepertinya. Akibat masamnya surai sengsara, membiarkanku selalu terluka. Aku menganggapnya sebagai propaganda hidup susah. susah tertawa bahagia, susah mensyukuri, susah bersuka cita. Aku berakhir menjadi seorang yang dengki dengan muka masam bak seorang pendendam.
Aku bergerak, melalu berbagai pedih dan luka. Membiarkan hatiku makin membusuk layaknya daging tak enak disantap. Banyak yang menganggapku sosok picik, dengan berbagai argumen yang menurutku sangat benar; tentangku. memojokkan sisi lembutku, membiarkan picikku menguasai diri.
Lalu, apakah aku senang hidup seperti penyihir ini? bahkan penyihir saja bisa tampak sangat baik. Apakah aku tak pantas dipandang baik pula? seburuk itukah aku? serendah itukah aku? meski aku percaya, setitik baikku selalu mengikuti picikku yang lebih membengkak ini.
Ku-biarkan hatiku semakin masam, semakin membuncah ruah akan kebencian. Ku-biarkan debu picik ini semakin menutup lapis ulu-ku yang riang. membungkusnya dengan benci bak kesetanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar