Tiap lembar kertas itu terbalik, merangkum tiap selip kehidupan pahit yang sakit. Ku biarkan seluruh ranah jiwa terjerumus pada lirik pedih hidup ini; agar ku bisa nyanyikan pujian pedih tiap dini hari. Lalu, aku akan melenguh; lenguhan siksa yang tak ingin didengan makhluk manapun.
Aku meratap! Membiarkan ketakukan menguasai lakon hidupku. Ku biarkan luka lara tergenggam dalam jemari lunglai ku; agar pesakitan ini kian rapih, tertata dalam hidup redupku. Meski aku tak yakin, apakah bisa meraupnya sekuat tenaga.
Dengan luka yang tak kunjung pudar, ku rayakan setiap pesakitan yang datang dalam angan kosongku. Aku menerimanya, memeluknya bagai sebuah hangat yang harus aku sambut dengan suka cita. Lalu kubiarkan ia membunuh satu persatu luap angan dalam cahayaku; agar semakin menggelap lingkup jelitaku.
Pesakitan ini tampak nyata, ku rasa. bendungan tangis yang susah payah ku bangun, nyatanya luruh. Hingga ku biarkan jemari ini menjambak tiap helai harapan yang mulai kabur. Ku biarkan setidaknya berkorban sekali lagi; meski tau akhirnya akan sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar