Minggu, 23 Maret 2025

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu.
Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit. 
Moral, ia redupkan. Ia senantiasa menjamah perapian adab, mengoyak tiap keyakinan.
Gadis rapuh itu, ia hancurkan. Remuk, redam. Bak selendang sutra yang koyak akan angan.
Sementara, ia tertawa lepas. Ia nikmati tiap pesakitan yang menerpa pualam. Gadis itu, pantas menempa dirinya pada senggama fana, dunia. 
Gadis itu harus jatuh, lalu bangkit, dalam semalam. 
Sementara ia, akan menjadi penonton paling istimewa, menjadi yang paling sempurna, menanti gadis itu menyatu padanya. 
Pada kedewasaan, pada kesendirian, pada keyakinan. 
Yang tak pernah gadis rapuh itu dapatkan, bahkan dari sang rembulan. 

Selasa, 10 Desember 2024

Pertikaian

Sorot matanya tampak sayu, lelaku nya menarik segala pesakitan yang pahit. Hatinya pun remuk redam, tertutup debu dendam yang memupuk asanya. 
Gadis manis itu, menjelma menjadi wanita kasar tak bermoral. Ia, berubah. 
Ia selalu bertikai, ia dan dirinya yang lain. 
Yang memilukan, tak ada seorangpun berniat menolongnya. Ia terjebak dalam labirin semu itu, sendirian.
Ia menangis, meraung, membenci, pada apa yang ia lakukan. Pada dirinya sendiri, gadis manis di masa lalunya.
Sejenak, ia berusaha kembali, namun rasa sakitnya menjadi semakin mencekik erat; menyuruhnya tetap pada pesakitan yang pahit itu. 
Ia butuh pertolongan, entah pada siapapun; manusia, atau tuhan. 

Minggu, 11 Agustus 2024

Arungi

Semburat merah itu, menyala bak kembang api indah di penghujung tahun.
Ia rajut perlahan buah asa, menjadikannya pelipur lara. 
Ia sempat begitu terlena, berharap meraup sahaja.
Sedang sang rembulan, menjadi saksi bagaimana dua insan bercumbu mesra.
Sigadis tampak kemayu, memaparkan sejuta goda rayuan.
Ia dengan sadar bertingkah sebagai wanita pelacuran, menggoda si pria malang.
Sementara itu, semesta tampak mendukungnya, membiarkan senggama itu terjalin begitu saja.
Dua manusia sakit, dua manusia yang masih terluka, saling membumbung sahaja; melupakan sejenak borok pesakitan yang menderai keduanya.

Jumat, 21 Juni 2024

Pertemuan manusia ulung

Kelambu itu tampak rumpun, menutup sebagian besar kelakar tak bermoral yang tersentuh oleh angan. Ku biarkan ia meracau, membeberkan banyak petuah gagak yang tak berujung. Ia merangkai serangkaian pemujaan ulung yang menjijikan. Terus memaksa kehendak, menggerus tiap penolakan.

Aku mendecak, muak dengan segala tipu daya, rayuan gila, juga racauan puja yang terasa merendahkan. Ia seperti melihat sebuah dawai surgawi dalam diriku, rantai nikmat yang selalu tampak lemah dalam dekapan. Ia, memuakkan. Ia bak anjing yang kelaparan.

Coba rayu aku, dengan rayuan yang lebih pantas. Maka mungkin aku akan lebih menerima dengan sahaja yang memias. 

Kamis, 16 November 2023

Pasungan rindu

Kali ini, aku biarkan luruh asa-ku pada tiap kerinduan yang membuncahi ulu. Ku biarkan ranum itu terus merapal pada tiap rancu nya kalimat sendu. Aku sempat terpias, berlari kemana pun kaki ini melaju. Sembari ku-rapalkan doa, menjadikannya candu. Aku tau, semakin ku rapal, semakin pedih ku dengar. Semakin sering ku ungkap, semakin perih ku serap. Aku tak perduli. Aku hanya ingin menunaikan tiap kerinduan yang membuah menjadi pesakitan batinku. Terluka, semakin menanar seakan tak kuasa. Dalam kurun waktu yang cukup lama, ku buat diriku semakin terlena. Terlena akan magis rayuanmu, terlena akan silap rengkuhmu. Aku semacam mendapat banyak ungkapan cinta, dari sang puan. Puan yang merayuku dengan sentuhan lirih sulutan lara. Membuatku seakan iba, pada pesakitan yang puan ringkih ini rasa. Seimbang dengan luruhnya batas gerbang ketidak-kuasa. Aku seakan dibuat tak berdaya. 

Membatin saja, aku sepertinya tak akan mendapat apa-apa. Sejak dari pertama percakapan indah itu, rasa ini hanya sepihak saja. Namun, apalah daya, Membuncahnya sebuah rasa menjadikanku sosok yang gila. Ku biarkan pesakitan ini merengkuhku secara perlahan, dengan ringkih aku menyombongkan ketidak-berdayaanku pada semesta. Seakan, aku seperti bisa menggenggamnya. Seakan, seperti aku bisa terus merengkuh luka. Berbeda, sepertinya aku terlalu candu akan sosok luka. Berpikir saja tidak bisa, hanya bermodalkan sulut asa yang masih tersisa. 

Rindu, rindu, rindu.

Aku rapalkan perlahan, untaian rindu penuh harap. Berharap pada semesta untuk pertemukan saja aku. Berharap untuk terengkuhnya ragaku. Merapal seperti kesetanan tak punya malu; hingga lidahku kelu. Tak apa, apabila si puan datang membawa semakin banyak luka. Setidaknya, ia memperlihatkan bagaimana cantiknya ia padaku saja, tidak pada semesta.  

Selasa, 22 Agustus 2023

Senja itu...

Hembusan angin yang selalu menerpa wajah lembutmu; kubiarkan itu merayumu. Lewat angan, ku salurkan tiap larik kagum yang tak terbendung dalam ulu-ku. Aku dapat rasakan tiap senyum bahagia itu tertabur karna ku. Bentuk dari sebuah upaya yang selalu ku-anut untuk menghias hariku. 
Mata ini, kucoba sejenak untuk terpejam. Ku lakukan untuk setidaknya mendengan alunan merdu dari suaramu. Tawa, celoteh serta gurau mu melengkapi indahnya petang dipadang rumput ini. Yang selalu ku nikmati setiap sore dalam benak rapuh ini.
Aku sempat mempertanyakan, bagaimana keindahan ini selalu kunikmati bahkan setiap ku bernafas, setiap jantungku berdetak. Apakah aku menolong banyak makhluk dimasa lalu? hingga saat ini aku diberi bahagia semeluap ini. Aku harus bersyukur kan? tentu saja!

 

Sabtu, 19 Agustus 2023

PERAYAAN MATI RASA

Tiap lembar kertas itu terbalik, merangkum tiap selip kehidupan pahit yang sakit. Ku biarkan seluruh ranah jiwa terjerumus pada lirik pedih hidup ini; agar ku bisa nyanyikan pujian pedih tiap dini hari. Lalu, aku akan melenguh; lenguhan siksa yang tak ingin didengan makhluk manapun.

Aku meratap! Membiarkan ketakukan menguasai lakon hidupku. Ku biarkan luka lara tergenggam dalam jemari lunglai ku; agar pesakitan ini kian rapih, tertata dalam hidup redupku. Meski aku tak yakin, apakah bisa meraupnya sekuat tenaga.

Dengan luka yang tak kunjung pudar, ku rayakan setiap pesakitan yang datang dalam angan kosongku. Aku menerimanya, memeluknya bagai sebuah hangat yang harus aku sambut dengan suka cita. Lalu kubiarkan ia membunuh satu persatu luap angan dalam cahayaku; agar semakin menggelap lingkup jelitaku. 

Pesakitan ini tampak nyata, ku rasa. bendungan tangis yang susah payah ku bangun, nyatanya luruh. Hingga ku biarkan jemari ini menjambak tiap helai harapan yang mulai kabur. Ku biarkan setidaknya berkorban sekali lagi; meski tau akhirnya akan sama. 

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...