Kamis, 16 November 2023

Pasungan rindu

Kali ini, aku biarkan luruh asa-ku pada tiap kerinduan yang membuncahi ulu. Ku biarkan ranum itu terus merapal pada tiap rancu nya kalimat sendu. Aku sempat terpias, berlari kemana pun kaki ini melaju. Sembari ku-rapalkan doa, menjadikannya candu. Aku tau, semakin ku rapal, semakin pedih ku dengar. Semakin sering ku ungkap, semakin perih ku serap. Aku tak perduli. Aku hanya ingin menunaikan tiap kerinduan yang membuah menjadi pesakitan batinku. Terluka, semakin menanar seakan tak kuasa. Dalam kurun waktu yang cukup lama, ku buat diriku semakin terlena. Terlena akan magis rayuanmu, terlena akan silap rengkuhmu. Aku semacam mendapat banyak ungkapan cinta, dari sang puan. Puan yang merayuku dengan sentuhan lirih sulutan lara. Membuatku seakan iba, pada pesakitan yang puan ringkih ini rasa. Seimbang dengan luruhnya batas gerbang ketidak-kuasa. Aku seakan dibuat tak berdaya. 

Membatin saja, aku sepertinya tak akan mendapat apa-apa. Sejak dari pertama percakapan indah itu, rasa ini hanya sepihak saja. Namun, apalah daya, Membuncahnya sebuah rasa menjadikanku sosok yang gila. Ku biarkan pesakitan ini merengkuhku secara perlahan, dengan ringkih aku menyombongkan ketidak-berdayaanku pada semesta. Seakan, aku seperti bisa menggenggamnya. Seakan, seperti aku bisa terus merengkuh luka. Berbeda, sepertinya aku terlalu candu akan sosok luka. Berpikir saja tidak bisa, hanya bermodalkan sulut asa yang masih tersisa. 

Rindu, rindu, rindu.

Aku rapalkan perlahan, untaian rindu penuh harap. Berharap pada semesta untuk pertemukan saja aku. Berharap untuk terengkuhnya ragaku. Merapal seperti kesetanan tak punya malu; hingga lidahku kelu. Tak apa, apabila si puan datang membawa semakin banyak luka. Setidaknya, ia memperlihatkan bagaimana cantiknya ia padaku saja, tidak pada semesta.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...