Jumat, 21 Juni 2024

Pertemuan manusia ulung

Kelambu itu tampak rumpun, menutup sebagian besar kelakar tak bermoral yang tersentuh oleh angan. Ku biarkan ia meracau, membeberkan banyak petuah gagak yang tak berujung. Ia merangkai serangkaian pemujaan ulung yang menjijikan. Terus memaksa kehendak, menggerus tiap penolakan.

Aku mendecak, muak dengan segala tipu daya, rayuan gila, juga racauan puja yang terasa merendahkan. Ia seperti melihat sebuah dawai surgawi dalam diriku, rantai nikmat yang selalu tampak lemah dalam dekapan. Ia, memuakkan. Ia bak anjing yang kelaparan.

Coba rayu aku, dengan rayuan yang lebih pantas. Maka mungkin aku akan lebih menerima dengan sahaja yang memias. 

Hanya Semalam....

Dalam sebuah hikayat, Rintihan pilu menjelma bak nyanyian merdu. Ia tambahkan bumbu manis pada luka pahit, menjadikannya legit.  Moral, ia r...