Aku mendecak, muak dengan segala tipu daya, rayuan gila, juga racauan puja yang terasa merendahkan. Ia seperti melihat sebuah dawai surgawi dalam diriku, rantai nikmat yang selalu tampak lemah dalam dekapan. Ia, memuakkan. Ia bak anjing yang kelaparan.
Coba rayu aku, dengan rayuan yang lebih pantas. Maka mungkin aku akan lebih menerima dengan sahaja yang memias.